Setiap orang mempunyai social history yang berbeda-beda, maka dari itu, sebagai seorang psikolog, harus mengetahui social history kliennya terlebih dahulu. apa social history itu? social history yaitu, keadaan sosial seseorang dari masa anak-anak hingga masa kini. terdapat beberapa macam mengenai social history antara lain, family history yaitu, mengenai asal-usul keluarga seperti tempat lahir klien, keadaan keluarga, konflik keluarga, dll.educational history yaitu, melalui pendidikan formal, seseorang membentuk kepribadiannya sendiri. waktu di luar lebih banyak dibandingkan di rumah. occupational training/job history yaitu, menanyakan kesibukan sehari-hari, seperti seseorang yang bertahan bekerja di tempat yang sama selama bertahun-tahun dan tidak ingin berpindah kerja bukan dikarenakan sebuah loyalitas. marital history yaitu, menanyakan lamanya pernikahan seseorang, atau konflik seseorang dengan status belum menikah. interpersonal relationship seperti hubungan dengan keluarga, teman terdekat dan juga orang terdekat lainnya. recreational preference, yaitu keseimbangan seseorang antara hidup have fun dengan hidup yang bekerja terus. terkadang terdapat individu yang tidak memikirkan kesenangan dirinya dan selalu khawatir dengan pekerjaannya, karena hidup harus seimbang. sexual history sangat sensitif untuk ditanyakan, maka dari itu hanya orang tertentu saja yang ditanyakan mengenai sexual history. medical history seperti, rawat jalan, riwayat rawat inap, riwayat operasi, last medical check up, psychiatric/psychotherapy history seperti diperiksa terdapat diagnosa atau treatment yang tidak pas atau tidak, dan legal history yaitu, pandangan perilaku seseorang secara hukum. so, untuk menjadi seorang psikolog diperlukan observasi yang kuat, wawancara yang tepat dan juga cara pandangan kita terhadap klien tersebut dengan cara memanage simpati dan empati kita sebagai seorang psikolog.
Selasa, 26 Maret 2013
Jumat, 15 Maret 2013
You Hear, i Hear
Seringkali kita mengalami masalah dan ingin meluapkan masalah tersebut dengan cara bercerita dengan orang lain atau bahkan ke teman kita sendiri. akan tetapi, apa yang kalian rasakan bila temen kita tidak merespon atau tidak mendengar curahan kita rasanya seperti tidak dihargai dan tidak peduli, tapi apa rasanya kalau orang lain atau teman kita merespon dan mendengar curahan kita rasanya dihargai dan juga segala uneg-uneg yang ada di diri kita juga keluar. adanya saling merespon dan energi kekerabatan yang dilakukan antara si pendengar dan juga si pembicara dapat menimbulkan hubungan interpersonal yang baik. begitu juga dengan dunia psikologi, hubungan antara psikolog dengan kliennya juga penting untuk membangun hubungan interpersonal yang baik agar klien pun dapat nyaman dengan psikolognya tersebut. psikolog harus membangun hubungan yang baik kepada kliennya dengan cara melihat kondisi klien, seperti jika klien menghadapi depresi yang berat atau bahkan trauma yang berat, psikolog pun tidak mengeluarkan sebuah candaan karena akan merusak kenyamanan dan juga hubungan antara psikolog dengan kliennya. membedakan simpati dengan empati dengan klien juga penting karena jika kita tidak tahu cara berempati atau bersimpati yang benar, maka klien akan merasa dirinya makin merasa bersalah dan tidak nyaman. mengungkapkan kata "OHH" sebenarnya kata tanggapan jika lawan bicara kita sedang berbicara, akna tetapi apa yang terjadi jika si pendengar menjawab "ohh" dengan muka yang tidak welcome? menurut saya sama saja dengan tidak merespon si pembicara tersebut. bedakan antara jika si pendengar menjawab "ohh" dengan ekspresi yang tidak datar akan tetapi tidak juga berekspresi seperti seperti terdapat kontak mata antara si pendengar dengan si pembicara maka si pembicara juga merasa nyaman dan juga merasa ditanggapi. so, sebenarnya hal tersebut dapat diterapkan di dalam profesi maupun di luar profesi. kita harus mengetahui cara merespon dan respect yang baik agar terjadi saling menghargai.
Minggu, 10 Maret 2013
Dunia Wawancara dalam Psikologi (Part 2)
Dunia wawancara dalam psikologi bagian pertama telah membahas mengenai psikologi klinis anak VS psikologi klinis dewasa. kali ini saya akan membahas mengenai psikologi industri organisasi VS psikologi pendidikan. bidang psikololgi industri dan organisasi atau sering kita sebut PIO menggunakan teknik wawancara untuk mewawancara calon karyawan di perusahaan tersebut. melalui wawancara, interviewer yang biasa dilakukan oleh pihak HRD akan lebih mengetahui mengenai kekurangan calon karyawan tersebut. jika hanya melakukan psikotes saja, interviewer tidak dapat menggali lebih dalam mengenai calon karyawan tersebut. akan tetapi melalui wawancara, interviewer akan lebih mengetahui calon karyawannya berbohong atau tidak. hal tersebut dapat dilihat dari perilakunya atau gerak-geriknya seperti lirikan matanya yang berbeda arah ataupun tangan yang tidak bisa diam dengan konsisten. wawancara tidak hanya dilakukan untuk penerimaan calon karyawan saja, akan tetapi mewawancara karyawan yang mempunyai masalah dengan kinerjanya ataupun masalah dalam bekerjanya tersebut.
Sedangkan psikologi pendidikan, banyak orang awam menyebutnya dengan Guru BP/BK yang terkenal tidak disukai oleh para murid rata-rata. sebenarnya menurut saya, tidak semua guru BP/BK menyebalkan seperti kata murid-murid yang berkata seperti itu, tergantung dari guru tersebut mendekatkan diri dengan murid-muridnya, tergantung dari guru tersebut mengetahui masalah murid tersebut hingga murid tersebut nyaman dengan guru dan ingin sharing dengan guru tersebut. jika murid mengalami masalah dengan sekolahnya tugas psikolog pendidikan atau guru BP/BK mewawancara murid tersebut. Banyak psikolog yang melakukan wawancara dalam banyak hal, jadi kamu pun bisa pakai buat wawancara dalam hal apapun.
Minggu, 03 Maret 2013
Dunia Wawancara dalam Psikologi
Dunia psikologi mempunyai berbagai hal untuk mengetahui seseorang. Selain psikotes, wawancara juga diperlukan. Tujuan menggunakan wawancara adalah untuk lebih mengetahui pribadi seseorang karena hanya melalui psikotes, pewawancara tidak dapat mengetahui lebih dalam mengenai orang yang diwawancara. Berbagai macam bidang psikologi telah menggunakan wawancara dengan cara yang berbeda. seperti pada psikolog anak yang menggunakan mainan play dough agar lebih mudah untuk wawancara anak tersebut, sedangkan orang dewasa lebih mudah untuk diwawancarai. melalui wawancara juga dapat melihat seseorang telah berbohong atau tidak. hal tersebut dapat dilihat melalui gerak-gerik orang tersebut seperti cara orang tersebut berbicara, tatapan matanya yang tidak fokus dan perilaku lainnya yang dapat ditunjukan.
Walaupun wawancara dapat dilakukan secara tidak terstruktur, akan tetapi psikolog pun tetap mengikuti jalur topiknya agar orang yang diwawancara tidak lepas dari topik pembahasan, karena jika lepas dari topik pembahasan, pewawancara akan sulit untuk mengetahui inti masalah dari orang yang diwawancarai tersebut. selain itu, wawancara juga banyak digunakan dalam bidang psikolog industri dan juga organisasi. jadi belajar teknik dalam wawancara sangat penting karena dengan belajar hal tersebut kita dapat lebih dalam mendapatkan informasi dan juga mengetahui kepribadian dan juga karakter seseorang.
Langganan:
Komentar (Atom)